Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang

Segala Puja dan Puji hanya milik Allah Ta’aala

Semoga rahmat/salawat Allah dan SejahteraNya tetap atas Nabi Muhammad saw dan Nabi lain-lainnya  serta keluarga dan sahabat mereka dan orang-orang salih.

 

Prakata 

         Tulisan ini saya salin disini dari kertas yang sudah mulai   menguning  warnanya.  Saya kumpulkan dari tumpukan map-map yang berserakan di kardus tempat penyimpanan dokumen dan berkas-berkas lama di gudang lantai atas rumah, saya temukan beberapa hari yang lalu ketika sedang membersihkan gudang yang sudah mulai tergenang air karena gentengnya bocor. Rencananya dulu tulisan-tulisan ini saya kumpulkan yang mungkin suatu saat nanti saya akan coba susun untuk dijadikan sebuah buku, namun rencana tersebut belum sampai terlaksana disebabkan menulisnya terhenti karena kehabisan modal buat makan sehari-hari, sedangkan untuk bisa menulis syarat utamanya adalah tidak boleh lapar, ditambah dengan tidak adanya rokok dan kopi yang menemaninya.

Profesi saya sebenarnya bukanlah seorang penulis, namun saya sangat gemar sekali membaca sejak kecil, mulai dari cerita-2 wayang Mahabrata, Dewi Sri, Silat karangan Kho Ping Ho, Novel dll. Belakangan, dari kegemaran membaca itu, saya sering membuat catatan-catatan kecil bila mendapati sesuatu yang menarik atau yang berkesan buat saya dari buku-buku yang saya baca. Nah catatan-2 kecil itulah yang kemudian saya kumpulkan, ditambah materi tulisan yang memang  sengaja saya mencarinya ketika saya ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang suatu hal.  Dari sinilah sebenarnya, riwayat tulisan ini akhirnya saya salin di webblog ini, walaupun telah banyak yang sudah sulit dibacanya karena beberapa bagian telah rusak, bahkan banyak yang sudah tidak bisa terbaca lagi. Jadi kalau dalam tulisan ini dijumpai hal-2 yang dirasakan kurang nyambung materinya. Harap maklum.

Untuk istriku yang ayu, yang dengan  sabar  membantu mengumpulkan kertas-2 kuning yang berserakan itu,  serta putriku yang patuh, energik dan cerdas, yang saat tulisan ini aku salin disini sedang menjalankan tugas kantornya untuk menjadi panitia Asian Beach Games 2008 di Bali.  Kuingatkan untuk keluargaku termasuk diriku akan satu hal yang tidak boleh kita lupakan dan wajib kita syukuri adalah Nikmat yang telah Allah berikan kepada kita sekeluarga, untuk itu jangan tinggalkan shalat dan sisihkanlah sebagian rezeki kita untuk mahluk Allah yang rezekinya dititipkan kepada kita  … berikan, dan jangan ditahan.

Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu penulis untuk menyalin naskah yang telah menguning itu ke webblog ini, termasuk juga penulis-penulis yang karyanya saya kutip dalam tulisan ini, dan tentunya diatas segala-galanya,  adalah ungkapan rasa syukur kehadirat Allah SWT atas segala karuniaNya yang penulis tidak mampu menghitungnya, diantaranya ialah nikmat sehat, nikmat Islam, nikmat Iman,  serta diberikan kekuatan sehingga penulis mampu menyalin tulisan ini disini, yang sejujurnya bila ingin dikatakan, penulis tidak tahu webblog ini tadinya mau diisi apa?. Kembali “Entah Mengapa” kog tiba-tiba terbesit di benak penulis, … Lho kenapa tidak diisi saja dengan tulisan sendiri yang ada (tidak usah repot-2 mikir lagi). Sekalian buat arsip dan berbagi dengan yang lain, mungkin juga bermanfaat buat yang lain, Insya Allah.

 

Pendahuluan

Sejak zaman dahulu kala manusia dengan berbekal pengetahuan yang masih primitif dan melalui inderanya berusaha untuk mencari hakikat segala sesuatu, termasuk asal usul dan tujuannya. Ia merasa tidak cukup dengan yang nampak melalui inderanya saja. Ia ingin mengetahui apa yang ada dibalik itu (yang tersembunyi),  apa yang terjadi sebelumnya, bahkan ingin mengetahui kapan bumi yang didiaminya itu ada, dari apa ia dijadikan dan siapa yang menjadikan, termasuk alam semesta.

Tulisan ini tidak bermaksud memberikan pandangan menyeluruh tentang jati diri manusia dan makna hidupnya, sebab penulis menyadari bahwa untuk melakukan hal itu dibutuhkan penulisan sebuah buku yang sangat besar dan panjang, bahkan mungkin berjilid-jilid; Oleh karena manusia itu berbeda-beda, dan seandainyapun mereka hidup dalam suatu kebudayaan yang sama, bisa jadi tulisan inipun akan berbeda hasilnya jika ditulis oleh penganut Kristen, Yahudi, Hindu, Budha, bahkan oleh seorang Sufi Muslim. Keberagaman itulah yang menjadikannya berbeda, dimana kita perlu sadari bahwa keberagaman pada hakekatnya adalah penerimaan nilai-nilai dan pandangan hidup yang diyakini Kebenaran-nya, karena ia lahir dari proses pewarisan ultimate value dari generasi ke generasi.

Didasari dengan kemauan sungguh-sungguh untuk menumbuh kembangkan kerukunan hidup diantara umat manusia dengan keberagaman adat, budaya, dan agama. Ketika ideologi-ideologi sekuler yang menjanjikan perbaikan nasib umat manusia belum juga kunjung berhasil memenuhi janjinya untuk dapat mengatasi berbagai tindak kejahatan yang mengancam kelestarian umat manusia; diantaranya keserakahan, peperangan, dan ketidak adilan sosial, dan kini ditambah lagi dengan bentuk kejahatan baru yang tidak kalah mengerikan adalah lingkungan buatan yang diciptakan manusia melalui penerapan ilmu pada teknologi guna pelampiasan keserakahan.

Sejarah manusia bercerita kepada kita tentang peradaban-peradaban besar yang berkembang dimasa lalu, dan kemudian lenyap dengan hanya meninggalkan puing-puing reruntuhan yang bertutur akan masa lalu manusia. Gilirannya kini, di zaman ini, dimana banyak laboraturium penelitian dibangun oleh pemerintah suatu negara maupun oleh lembaga-lembaga kaya dengan mempekerjakan ilmuwan-ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu, banyak yang telah berhasil menemukan berbagai penemuan yang hampir tidak dapat dipercaya. Namun, hingga kini para ilmuwan tersebut belum juga berhasil memecahkan masalah kemanusiaan, dan bahkan belum dapat ditemukan suatu teknologi yang mampu memberikan jawaban pada perselisihan dan kebencian yang ada diantara manusia, ataupun perbedaan kelas sosial yang terdapat diberbagai lapisan masyarakat.

Kehidupan di abad yang luar biasa ini, dimana batas pemisah antara bencana dan kebahagian terletak pada ujung jari manusia;  yakni tombol peluncur nuklir yang dapat menghancurkan suatu kota sebesar Jakarta dalam waktu sekejap termasuk segala isinya; Dan tidak ada lagi batas ruang dan waktu; Kita dapat memantau orang-orang yang kita kasihi ketika mereka sedang wukuf di Arafah, sedang melempar Jumroh di Mina, sedang Tawaf mengelilingi Ka’bah, sedang Sa’i antara bukit Safa dan Marwah, maupun yang sedang duduk-duduk sambil minum teh di pelataran Hilton yang dibangun diseberang pintu masuk Fadh, masjidil Haram, juga yang sedang belanja oleh-oleh di Pasar Seng sambil menunggu datangnya waktu shalat.

Betapa banyak saat ini informasi-informasi yang kita terima baik melalui media cetak, elektronik, buku-buku, perdebatan terbatas dikampus-kampus, perdebatan politik, maupun juga perdebatan publik yang ditayangkan melalui radio dan televisi, dimana masing-masing pihak terlalu asyik dengan argumentasinya yang dianggapnya benar menurut pemikirannya, namun belum tentu benar menurut pemikiran yang lainnya. Belum lagi dengan penemuan-penemuan baru tentang kecerdasan akademis, kecerdasan emosi, kecerdasan majemuk, dan kecerdasan- kecerdasan lainnya, yang diharapkan bisa menjadi entry point ataupun modal dasar menjawab “apa itu Kebenaran?”. 

“Cerdas”, kalau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah; Sempurna perkembangan akal budinya (untuk berpikir, mengerti, dsb); tajam pikirannya. Namun pertanyaan sekarang kita mulai dari yang sangat sederhana saja dulu, yakni mengapa ia tidak menjadi cerdas untuk mengenal dirinya? Yang seharusnya disadari  bahwa;   sebagai salah satu mahluk yang masa hidupnya sangat terbatas, dan mengapa kecerdasannya tidak ia mulai untuk dirinya saja dulu, kemudian keluargannya, kemudian lingkungannya, dan seterusnya; karena tiap-tiap jiwa akan dimintai pertanggung jawabannya.

Al-Ghazali yang menyibukan diri meneliti ragam pencari Kebenaran, hingga tercapai konklusi bahwa mereka terbagi 4 (empat) kelompok:

  1. Mutakallim (teolog), yakni “mereka yang memproklamirkan diri sebagai ahli pemikiran dan teori”.
  2. Aliran-aliran kebatinan, yakni “mereka yang mempropagandakan diri sebagai orang-orang terpelajar dan ditunjuk secara khusus untuk meneruskan ajaran imam yang maksum”.
  3. Filosof, yakni “mereka yang menganggap diri sebagai ahli logika dan pembuktian”.
  4. Ahli tasawuf, yaitu “mereka yang memandang diri sebagai elit tersendiri (khawas) di dalam kedekatannya di sisi Allah, sekaligus ahli penyaksian batin (musyahadah) dan penyibakan hati (mukasyafah).

Namun sejauh itu Al-Ghazali belum berani memberikan penilaian terhadap salah satu dari 4 (empat) golongan tersebut, sebelum mempelajari dasar-dasar pemikiran dan memahami keyakinan masing-masing.

Jalaluddin Rumi yang terkenal dengan puisi-puisi sufistiknya yang indah dalam bukunya yang diterjemahkan dari buku aslinya berbahasa Inggris : Sign of The Unseen: The discourses of Jalaluddin Rumi. Terbitan S. Abdul Majeed & Co, Kuala Lumpur, Malaysia; Seseorang berkata;

“Ada sesuatu yang telah aku lupakan”

 Ada sesuatu hal di dunia ini yang tidak boleh dilupakan

Engkau boleh melupakan apapun, kecuali satu hal

Apabila mengingat semua hal lain tetapi melupakan satu hal itu, engkau tidak akan dapat menyelesaikan apapun

Itu seperti seorang raja yang mengirim engkau ke kampung dengan tujuan tertentu

Engkau pergi dan melakukan ratusan tugas lain

Apabila menolak menyelesaikan tugas utama yang untuk itu engkau dikirim, berarti engkau tidak melakukan apa-apa

Dan manusia,  muncul di dunia ini untuk tujuan dan maksud tertentu

Apabila tidak memenuhi maksud itu, dia tidak melakukan apa-apa

“Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan menghianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”.

Apa-apa yang benar pasti datangnya dari Allah,  dan perkenankanlah saya mengharap bila tulisan ini selesai saya salin di webblog ini, dan siapa saja yang mendapat manfa’at dari tulisan-tulisan ini,  agar berkenan mendoakan saya dan keluarga saya,  kedua orang tua saya,  guru-guru saya,  serta semua kaum muslimin dan muslimat.  Akhirnya, hanya kepada Allah, aku menyandarkan diri, Dialah yang mencukupi dan sebaik-baik yang diserahi. Dan tiada daya kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Perkasa dan  Maha Bijaksana.

Menteng Dalam - Jakarta, 29 Okt’ 2008

H. Umar Hapsoro Ishak